Friday, 28 April 2017

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kakao - Pupuk Kakao Berkwalitas Tinggi

Kali ini akan kami bahas masalah hama dan penyakit yang umumnya terjadi pada tanaman kakao. Selain faktor kendala teknis budidaya dilapangan salah satu permasalahan yang terdapat pada usaha budidaya tanaman ini adalah serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman kakao ini dapat mengakibatkan turunnya hasil panen atau bahkan kematian pada tanaman. Mengingat skala usaha budidaya tanaman ini masih kecil dan sederhana, serangan hama dan penyakit tidak cepat dikendalikan. Hal ini akan memperparah akibat serangan hama dam penyakit pada tanaman kakao.
Beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakao di pulau kundur antara lain:
a. Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria; Famili : Geometridae ) , menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja. Pengendalian dengan PESTONA dosis 5 – 10 cc / liter.
b. Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae ) , ada bulu-bulu gatal pada bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman. Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosa dan Carcelia spp, semprot PESTONA .
c. Parasa lepida dan Ploneta diducta (Ulat Srengenge), serangan dilakukan silih berganti karena kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, Parasa lepida lebih panjang dari pada Ploneta diducta. Pengendalian dengan PESTONA.
d. Kutu – kutuan ( Pseudococcus lilacinus ), kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam. Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati. Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam, parasit Coccophagus pseudococci Natural BVR 30 gr/ 10 liter air atau PESTONA.
e. Helopeltis antonii, menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupai tanduk tampak lurus. Ciri serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya dan buah kecil kering lalu mati. Pengendalian dilakukan dengan PESTONA dosis 5-10 cc / lt (pada buah terserang), hari pertama semprot stadia imago, hari ke-7 dilakukan ulangan pada telurnya dan pada hari ke-17 dilakukan terhadap nimfa yang masih hidup, sehingga pengendalian benar-benar efektif, sanitasi lahan, pembuangan buah terserang.

f. Cacao Mot ( Ngengat Buah ), Acrocercops cranerella (Famili ; Lithocolletidae) . Buah muda terserang hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak dapat mengembang dan lengket. Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik yang bagian bawahnya tetap terbuka (kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan jamur antagonis Beauveria bassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan, semprot dengan PESTONA.
g. Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora), gejala serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati. Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur, semprot dengan
Natural GLIO.
h. Jamur Upas ( Upasia salmonicolor ), menyerang batang dan cabang. Pengendalian : kerok dan olesi batang atau cabang terserang dengan Natural GLIO + HORMONIK, pemangkasan teratur, serangan berlanjut dipotong lalu dibakar.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 , dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

Telpon Ke 0823 6627 7131 Untuk Konsultasi

Monday, 24 April 2017

MENGENAL HAMA DAN PENYAKIT PADA KARET

Hama.
1.Kutu tanaman (Planococcus citri)
Gejala: merusak tanaman dengan mengisap cairan dari pucuk batang dan daun muda. Bagian tanaman yang diisap menjadi kuning dan kering. Pengendalian: Menggunakan BVR atau Pestona.
2.Tungau (Hemitarsonemus , Paratetranychus)
Gejala; mengisap cairan daun muda, daun tua, pucuk, sehingga tidak normal dan kerdil, daun berguguran. Pengendalian: Menggunakan BVR atau Pestona
Penyakit.
Penyakit yang menyerang bagian akar, batang, daun dan bidang sadap, sebagian besar disebabkan oleh jamur. Penyakit tersebut antara lain :
1.Penyakit pada akar : Akar putih (Jamur Rigidoporus lignosus), Akar merah (Jamur Ganoderma pseudoferrum), Jamur upas (Jamur Corticium salmonicolor),
2.Penyakit pada batang :Kanker bercak (Jamur Phytophthora palmivora), Busuk pangkal batang (Jamur Botrydiplodia theobromae),
3.Penyakit pada bidang sadap : Kanker garis (Jamur Phytophthora palmivora), Mouldy rot (Jamur Ceratocystis fimbriata)
4.Penyakit pada Daun : Embun tepung (jamur Oidium heveae), Penyakit colletorichum (Jamur Coletotrichum gloeosporoides), Penyakit Phytophthora (Jamur Phytophthora botriosa)
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit karena jamur:
1. Menanam bibit sehat dan dari klon resisten
2. Pemupukan lengkap dan seimbang ( makro - mikro) dengan jenis pupuk, dosis dan waktu yang tepat
3.Taburkan Natural Glio sebelum atau pada saat tanam
sanitasi kebun
4. Pemangkasan tanaman penutup yang terlalu lebat
5. Bagian yang terserang segera dimusnahkan
6. Penyadapan tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dekat tanah
7. Pisau sadap steril
8. Khusus penyakit embun tepung, daun digugurkan lebih awal dan segera dipupuk nitrogen dengan dosis dua kali lipat dansemprot POC NASA 3-5 tutup/tangki.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .
SILAHKAN DI SHARE...!!!!
SEMOGA BERMANFAAT
TETAP SEMANGAT DAN TERUS BERJUANG
SALAM DAHSYAT.....

Saturday, 15 April 2017

CARA MENGATASI DAN MENCEGAH PENYAKIT JAMUR GANODERMA DENGAN NATURAL GLIO PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Pembusukan akar)


Cara pencegahan:
-Gunakan 1 kotak Natural GLIO (100 gram) ditambah 3 sendok makan gula pasir dan 10 liter air
(jangan menggunakan air PAM dan jangan air panas).
- Natural GLIO dan gula pasir dimasukkan ke dalam ember yang berisi air 10 liter tersebut, diaduk-aduk dengan tangan sampai larut sampai tercampur rata.
- Setelah itu siramkan ke pangkal batang sawit yang terkena jamur Ganoderma (baik yang sudah mati atau yang masih hidup).
- Tiap batang Sawit disirami 1 liter cairan GLIO melingkari pangkal batang pada tanaman sawit.
Peringatan: Aplikasinya harus dilakukan pada sore hari sekitar jam 16.00 s/d jam 18.00 agar larutan Natural GLIO tidak terkena sinar matahari.
- Pada tanaman yang terserang berat, tidak bisa diatasi dengan Natural GLIO, tetapi harus tetap diberi lartan Natural GLIO agar sumber penyakitnya bisa diatasi sehingga tidak pindah/ menular ke tanaman kelapa sawit yang ada di sekitarnya.

Untuk Pemesanan Hub 082366277131

Friday, 14 April 2017

INFORMASI PRODUK PT. NATURAL NUSANTARA (NASA) UNTUK KOMODITI TERNAK BEBEK - VITERNA ( Vitamin Ternak Organik )

  1. Bebek Pedaging
  • Produk yang digunakan : Viterna, POC NASA, Hormonik
  • Kandungan Viterna, POC NASA, Hormonik : Protein, mineral, vitamin yang berasal dari bahan-bahan organik/alami, bukan kimia/sintetik.
  • Cara pemakaian : 3 produk tersebut dicampur menjadi 1 larutan terbih dahulu
  • Dosis : 1 tutup botol campuran 3 produk NASA tersebut, dicampur pada pakan basah/komboran sebanyak 10 - 15 kg
  • Waktu pemberian : Pagi dan sore hari
  • Keunggulan Produk NASA pada bebek pedaging :
Ø  Berasal dari bahan alami/organik, bukan dari bahan-bahan kimia atau sintetik
Ø  Mampu menggantikan pemberian vitamin dan mineral kimia/sintetik
Ø  Meningkatkan nafsu makan
Ø  Mengurangi kestresan pada bebek, baik pada saat masuk kandang pertama kali, setelah bebek divaksinasi atau saat bebek dalam proses pengobatan
Ø  Mempercepat waktu panen bebek, rata-rata pada umur 42 hari sudah mencapai 1,3 kg per ekor.
Ø  Angka kematian : 24%
Ø  Mengurangi bau kotoran
Ø  Meningkatkan kesehatan bebek



  1. Bebek Petelur
  • Produk yang digunakan : Viterna, POC NASA
  • Kandungan Viterna, POC NASA : Protein, mineral, vitamin yang berasal dari bahan-bahan organik/alami, bukan kimia/sintetik.
  • Cara pemakaian : 2 produk tersebut dicampur menjadi 1 larutan terbih dahulu
  • Dosis : 1 tutup botol campuran 3 produk NASA tersebut tersebut, dicampur pada pakan basah/komboran sebanyak 10 - 15 kg
  • Waktu pemberian : Diberi 3 hari sekali. Pagi atau sore hari
  • Keunggulan Produk NASA pada bebek petelur :
Ø  Berasal dari bahan alami/organik, bukan dari bahan-bahan kimia atau sintetik
Ø  Mampu menggantikan pemberian vitamin dan mineral kimia/sintetik
Ø  Meningkatkan nafsu makan
Ø  Mengurangi kestresan pada bebek, baik pada saat masuk kandang pertama kali, setelah bebek divaksinasi atau saat bebek dalam proses pengobatan
Ø  Meningkatkan produksi telur bebek 40 – 50% per harinya, dibandingkan yang tidak menggunakan produk NASA pada masa berproduksi telur.
Ø  Angka kematian : 24%
Ø  Mengurangi bau kotoran
Ø  Meningkatkan kesehatan bebek



Catatan :

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN BUDIDAYA TERNAK BEBEK (Pedaging dan Petelur) :
  1. Bibit yang baik
  2. Pakan yang lengkap (kandungan dan jumlahnya)
  3. Kandang yang kuat, bersih, dan nyaman bagi ternak
  4. Tata cara pemeliharaan
  5. Pencegahan dan pengendalian penyakit  



PUPUK GREEN STAR PUPUK SERBA GUNA BERTEKNOLOGI NANO DARI NASA




Pupuk Organik Serbuk, Terobosan Terbaru Inovasi & Teknologi Organik. Pupuk ini dapat diaplikasiakan kepada semua jenis tanaman.

GREENSTAR merupakan pupuk organik yang murni dibuat dari bahan-bahan organik dengan fungsi multiguna. Kandungan unsur hara yang terkandung di dalalmnya, baik unsur makro maupun mikro sangat berperan dalam perkembangan tanaman. Dengan fungsi utama meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta kelestarian lingkungan/tanah (aspek K-3).
GREENSTAR dapat diaplikasikan untuk tanaman semusim, buah/tahunan, tanaman hias maupun untuk pembibitan.
GREENSTAR juga mengandung hormon/Zat Pengatur Tumbuh (Giberelin, Sitokinin, Auksin) yang sangat diperlukan oleh tanaman. Dengan penggunaan GREENSTAR, pupuk makro (NPK) bisa dikurangi ± 25%.

Dengan kemasan yang unik dan sangat berbeda dengan produk-produk pupuk terutama pupuk organik yang ada di pasaran serta jauh dari gambaran para pengguna pupuk pada umumnya semakin memperjelas keseriusan kami dalam menghasilkan suatu produk, tidak hanya fungsi tetapi tampilan juga kami perhatikan. Dengan bentuknya yang sederhana, kecil, ringan dan praktis semakin mempermudah dalam aplikasi di lapangan di samping cara aplikasi yang juga sangat mudah dan cepat. GREENSTAR dikemas dalam bentuk sachet (20gr). 1 dos berisi 3 sachet yang disesuaikan dengan dosis sekali aplikasi untuk luas lahan 1000 m2.

GREENSTAR dibuat dengan pengawasan yang teliti sehingga produk ini sangat aman untuk lingkungan, bebas logam berat (Ph, Cd, Hg. As), bebas mikroba E-coli, salmonela serta bebas dari bahan ikutan / pengotor.

Greenstar, isi : 3 sachet @ 20 gram

TON SOLUSI PERIKANAN - Tambak Organik Nusantara

Petani Tambak Sedang Mensortir Bibit



Indonesia sebagai negara bahari sangat kaya dengan potensi perikanan dan kelautanya. Letak Indonesia sangat strategis dengan keanekaragaman biota lautnya merupakan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh negara lain. Selain potensi perikanan tangkap di laut, dengan panjang garis pantai 81.000 KM, merupakan lahan yang potensial untuk pengembangan perikanan air payau berupa tambak, baik tambak udang maupun tambak bandeng.
Pada saat ini hasil yang telah dicapai dunia perikanan indonesia masih jauh dari potensi yang sebenarnya dimiliki :
Untuk Budidaya Air Payau, baru menghasilkan 140.000 (Seratus Empat Puluh Ribu) ton pertahun, yang jika dikonfersikan dalam produksi perhektar baru mencapai 400 (Empat Ratus) kilogram perhektar, yang tentunya masih sangat rendah apalagi jika dibandingkan negara lain yang telah maju dunia perikananya, dengan hasil 1,5 (Satu Setengah) ton perhektar.
Untuk Perikanan Darat juga demikian, pada saat ini baru mencapai 210.000 (Dua Ratus Sepuluh Ribu) ton pertahun yang masih perlu ditingkatkan.
Sedangkan pada Perikanan Tangkap, Hasil tangkapan mencapai hasil tangkapan mencapai 3,5 (Tiga Setengah) Juta Ton pertahun, juga masih dibawah potensi maksimal yang bisa dimanfaatkan yaitu 5 (Lima) Juta Ton pertahun. Sehingga oleh karena itu, Pengembangan dibidang perikanan harus dilakukan secara terus menerus dengan memanfaatkan teknologi yang maju.

Puncak keberhasilan budidaya perikanan dicapai pada tahun 1990 hingga tahun 1994 yang pada saat itu produk perikanan budidaya terutama udang windu menjadi primadona eksport non migas. Tetapi setelah tahun 1994 mulai terjadi penurunan produksi udang budidaya, dari total produksi 120.000 (Seratus Dua Puluh Ribu) Ton Pertahun pada tahun 1994, mengalami penurunan drastis hingga mencapai 50.000 (Lima Puluh Ribu) Ton Pertahun, pada tahun 1998 dengan rata-rata produksi hanya 400.000 Kilogram perhektar.
Produksi itu tetap terjadi hingga sekarang, Penurunan itu terjadi terus-menerus, karena menurunya daya dukung lahan (Carriying Capacity) akibat dari : ekploitasi lahan secara terus-menerus oleh pelaku budidaya baik pelaku tradisional maupun skala industri, pengolahan lahan tambak yang jelek, terjadinya pencemaran air laut yang tinggi dari limbah industri, penggunaan pestisida, pembuangan limbah air budidaya sebelumnya, bahan-bahan kimia untuk desinfektan air, serta merebaknya penyakit SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus) atau Bintik Putih yang belum dapat diatasi.
Akibat yang ditimbulkan oleh penurunan daya dukung lahan adalah penurunan produksi budidaya, baik pada komoditi udang maupun bandeng yang disebabkan oleh kegagalan budidaya. Karena lahan tambak sudah tidak mampu menyangga kehidupan didalamnya. Akibat lain adalah merebaknya berbagai penyakit, baik penyakit yang telah ada maupun penyakit baru. Penyakit yang paling merugikan adalah SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh udang, udang yang terinfeksi akan cepat mati dan bersifat menular dengan cepat melalui berbagai media. Dengan kondisi tersebut, maka lahan pada akhirnya sudah tidak dapat digunakan untuk lokasi budidaya.
Mencermati berbagai kondisi lahan budidaya perikanan terutama perikanan air payau diatas, PT. NATURAL NUSANTARA (PT. NASA) menawarkan pemecahan untuk mengatasi kerusakan lingkungan tambak secara berlanjut dan untuk memperbaiki lahan-lahan tambak yang telah rusak. Kondisi itu hanya dapat diatasi dengan teknis budidaya yang benar dan berwawasan lingkungan serta penggunaan bahan-bahan yang mampu merehabilitasi lahan yang telah rusak.
PT. Natural Nusantara Memberikan Solusi Untuk Permasalahan Tersebut dengan Menghadirkan Produk untuk Mengelola Lahan Budidaya yaitu : Pupuk Tambak Organik Nusantara atau Pupuk TON
Teknik budidaya yang benar adalah budidaya yang disertai dengan usaha-usaha untuk melestarikan lahan budidaya. Caranya dengan mengelola lahan setelah budidaya berakhir dengan tahapan sebagai berikut :
Yang pertama adalah Pengangkatan Lumpur Hitam. Lumpur Hitam selalu terbentuk selama budidaya. Materi ini terbentuk dari campuran berbagai bahan yang masuk ke kolam atau tambak. yaitu dari tanah dan bahan organik. Setelah budidaya, lumpur yang berbau busuk tersebut harus dihilangkan dengan cara pengeluaran dari kolam atau tambak. Baik dengan diangkut keatas maupun dengan cara penyedotan dengan pompa setelah dicairkan. Tujuan pengangkutan lumpur hitam adalah untuk membuang gas-gas beracun seperti amoniak, hydrogen sulfida dan lain-lain, Selain itu juga untuk membunuh berbagai bakteri, protozoa dan jamur sebagai penyebab penyakit dengan memutus siklus hidupnya.
Pembalikan Tanah. Setelah pembuangan lumpur hitam selesai dilakukan adalah Pembalikan Tanah dasar kolam atau tambak yang dilakukan dengan cara digaru, dicangkul atau dengan menggunakan alat bantu traktor pada lahan yang luas. Tujuan dari pembalikan tanah adalah : Untuk membuang gas-gas beracun supaya terlepas ke udara serta untuk memutus siklus penyakit karena spora bakteri dan jamur mati dengan sinar matahari langsung.
Pengapuran. Pengapuran penting sekali perananya karena biasanya lahan tambak ataupun kolam yang lama tergenang air sangat mendukung untuk membentuk keasaman yang tinggi. sehingga pengapuran ditujukan untuk menetralkan keasaman tanah atau pH. Selain itu juga untuk memutus siklus penyakit karena pada pH alkalis umumnya berbagai jenis bakteri dan jamur patogen akan mati. Jenis kapur yang dapat digunakan dalam tahap pengapuran ini adalah : Kapur Dolomite, Kapur Zeolite dengan dosis 2 ton perhektar. Pengeringan Lahan. Tindakan ini bertujuan untuk mengistirahatkan lahan. Selain itu juga untuk mematikan berbagai bakteri, jamur dan protozoa pembawa penyakit, serta untuk membuang berbagai gas-gas yang beracun.
Pemupukan. Pemupukan sangat penting dilakukan untuk mengembalikan berbagai unsur mineral yang hilang selama budidaya.Unsur-unsur mineral penting tersebut diperlukan terutama untuk pertumbuhan plankton, dan menjaga berbagai kehidupan yang terjadi di kolam atau tambak.
Teknologi yang ditawarkan oleh PT. NATURAL NUSANTARA adalah memberikan produk Pupuk Tambak Organik Nusantara atau PUPUK TON. Produk ini Merupakan 100 % (Seratus Persen) Organik Alami yang Mampu Merehabilitasi lahan-lahan Tambak / kolam yang telah rusak. Hal ini dimungkinkan karena Pupuk TON mengandung berbagai unsur-unsur mineral penting dan juga mengandung asam humat.
Secara garis besar Pupuk Pupuk TON disusun oleh 2 (dua) komponen utama yaitu Mineral-mineral dan Senyawa-senyawa. Masing-masing mineral mempunyai kadar tersendiri dan secara keseluruhan komposisinya ideal. Mineral yang terkandung dalam TON diantaranya adalah mineral makro yaitu N, P, dan K serta Mineral Mikro yaitu Ca, S, Mg, Cl, Al, Na Serta dilengkapi zat nutrisi Berupa Protein, Lemak dan Karbohidrat untuk meningkatkan kesuburan pertumbuhan plankton. Sedangkan asam humat merupakan senyawa penting yang dapat mengikat dan membebaskan berbagai racun di lahan budidaya serta mampu mengikat logam berat yang berbahaya yang masuk ke kolam atau tambak.
Pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan budidaya perikanan..!!!
Baik perikanan Air Payau berupa : Udang Windu, Bandeng… Maupun Perikanan Darat berupa : LELE, Ikan Mas, Gurame, Nila, Udang gala dll…
Penggunaan Pupuk TON dan Teknis budidaya yang baik dan benar, akan Meningkatkan Peluang Keberhasilan Budidaya !!!
Secara Garis Besar pemakaian TON dilakukan pada 2 (dua) tahap budidaya :
Pada saat olah lahan setelah panen atau tahap interval budidaya. Setelah dilakukan pengeringan lahan TON dilarutkan ke air, kemudia TON disemprotkan / disiramkan secara merata ke seluruh areal tanah dasar kolam atau tambak. Aplikasi ini sebaiknya dilakukan setelah tanah benar-benar kering, agar bahan-bahan dalam TON dapat berfungsi secara efektif. Pada tahap ini TON berfungsi untuk menetralkan gas-gas beracun yang terikat dalam partikel lumpur hitam sisa budidaya sebelumnya. Seluruh permukaan dasar kolam atau tambak harus terkena perlakuan TON agar tidak ada gas atau senyawa yang tersisa. Dosis Pemakaian pada tahap ini adalah 5-10 (Lima sampai Sepuluh) Botol Perhektar dan pada areal kolam atau tambak yang telah rusak sebaiknya dosisnya ditingkatkan. Selama budidaya berlangsung,
Perlakuan TON dilakukan secara rutin setiap 20 (Dua Puluh) hari sekali atau setiap pemasukan air baru dengan dosis 1-2 (satu sampai dua) botol perhektar. Tujuan pemakaian TON pada tahap ini adalah untuk menjaga kondisi air sebagai tempat hidup ikan atau udang selalu dalam kondisi baik artinya air selalu mempunyai parameter yang ideal untuk kehidupan ikan atau udang yaitu dalam hal oksigen terlarut atau DO ( Dissolved Oxygen ), pH, jenis plankton yang dominan kecerahan dan lain-lain. Hal itu disebabkan karena semakin lama budidaya maka kualitas air semakin menurun akibat dari semakin tingginya kandungan bahan organik dari makluk hidup yang mati yaitu hewan dan tumbuhan, dari kotoran ikan ataupun udang serta dari pakan buatan yang diberikan. Dengan sekin banyaknya bahan-bahan beracun dari pencemaran serta residu pestisida pertanian dan lain-lain.
Penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) Sebelum dan Selama budidaya berlangsung akan membawa manfaat sebagai berikut :1. Mengikat logam-logam berat dengan ikatan ion-ik kovalen2. Menetralkan senyawa beracun3. Menciptakan keseimbangan ekosistem4. Stabiliser Kualitas air5. Merutinkan Molting udang6. Sebagai Tambahan Nutrisi bagi PlanktonFungsi Pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) untuk mengikat logam-logam berat dengan ikatan ionik dan kovalen mengikuti mekanime sebagai berikut :Logam-logam berat terlarut dapat masuk ke perairan budidaya dari pencemaran limbah pabrik dan rumah tangga. Jenis logam berat tersebut diantaranya adah timbal (Pb) Seng (Zn) Merkury (Hg) Nikel (Ni) dll.. Dalam Keadaan terlarut logam-logam tersebut berbahaya bagi kehidupan ikan atau udang. Logam berat dapat masuk melalui proses absabsi yaitu penyerapan secara langsung maupun melalui phytoplankton yang dimakan oleh ikan atau udang. Akibat yang ditimbulkan dapat bersifat netal atau mematikan pada konsentrasi tinggi dan subnetal atau tidak mematikan tetapi menggangu kehidupan pada konsentrasi yang rendah.Asam humat dan fulvat pada TON dapat mengikat logam-logam tersebut dan membentuk menjadikan senyawa-senyawa yang tidak berbahaya.Mekanisme kerja fungsi Pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) Sebagai penetral senyawa beracun dan menjaga keseimbangan ekosistem adalah sebagai berikut :Dalam budidaya perairan selama proses budidaya akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup ikan atau udang dengan semakin bertumbuhnya umur, hal itu disebabkan karena semakin banyaknya bahan organik terlarut yang berasal dari kotoran ikan atau udang, sampah yang masuk, bangkai ikan atau udang, sisa pakan yang diberikan, tumbuhan dan hewan air lain yang mati. Bahan-bahan organik yang masuk tersebut alan mengalami dekomposisi oleh mikro organisme dikolam atau tambak menjadi amoniak atau NH3 yang beracun. Agar tidak beracun, senyawa amoniak tersebut harus diubah menjadi senyawa nitrit NO2 Minus dan Nitrat NO3 minus yang dilakukan oleh Bakteri Nitrozomonas dan Bakteri Nitrobakter. Proses tersebut disebut Reaksi Nitrifikasi yang membutuhkan kondisi air ideal yaitu DO ( Dissolved Oxygen ) yang tinggi, Suhu yang ideal, pH pada kisaran netral dan alkalinitas yang cukup tinggi.Penggunaan Pupuk TON di tambak mampu menjaga kualitas air tambak atau kolam selalu dalam keadaan ideal, karena kandungan mineral serta asam humatnya mampu menjaga kesuburan plankton dan menetralisir racun-racun yang ada, sehingga memungkinkan proses nitrifikasi tersebut berlangsung dengan baik. Maka tidak mengherankan jika tambak atau kolam budidaya yang menggunakan TON (Tambak Organik Nusantara) akan BERHASIL. Karena, ikan dan udang akan selalu hidup dalam lingkungan air yang ideal dan bebas dari senyawa beracun serta mempunyai persediaan pakan alami yang cukup.Mekanisme fungsi Pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) sebagai Stabiliser Kualitas Air dapat dijelaskan sebagai berikut :Dengan berbagai bahan penting yang terkandung didalamnya maka TON mampu menciptakan suatu lingkungan yang ideal bagi ikan atau udang. Baik dari segi ketersediaan pakan alami, kadar Oksigen Terlarut atau DO ( Dissolved Oxygen ), Keasaman atau pH dan mampu mempertahankanya hingga budidaya berakhir. Mekanisme Fungsi TON Untuk Merutinkan Molting Udang (Pergantian Kulit Udang) adalah sebagai berikut :Proses molting pada udang merupakan mekanisme pertambahan ukuran tubuh udang. Kulit udang tersusun oleh senyawa chitin yang keras dan tidak elastis. Oleh karena itu, dengan semakin besarnya ukuran tubuh udang, kulit harus mengalami penggantian dengan ukuran yang lebih sesuai dengan tubuh udang yang baru. Syarat agar udang dapat melakukan molting adalah kondisi udang yang baik dari segi energi dan kesehatanya, syarat lainnya adalah kondisi lingkungan (air) yang ideal, terutama dalam hal kandungan oksigen terlarut atau DO (Dissolved Oxygen), alkalinitas dan pH.Pupuk TON dengan mineral yang terkandung didalamnya akan mampu menyuburkan plankton sebagai pakan alami yang baik bagi udang, sehingga akan menunjang faktor kecukupan nutrisi yang dibutuhkanya. Dalam hal lingkungan, TON sebagaimana telah dijelaskan juga mampu menciptakan dan menjaga kualitas air yang ideal. Jika kedua syarat tadi dapat diciptakan dengan pemberian TON, maka proses molting juga dapat berlangsung dengan rutin.Mekanisme Fungsi Pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) untuk Menyuburkan Plankton dapat dijelaskan sebagai berikut :Plankton sebagaimana tumbuhan tingkat tinggi juga membutuhkan unsur-unsur mineral baik makro maupun mikro untuk tumbuh dan berkembang.   Pupuk TON mengandung berbagai unsur-unsur penting N, P, K, Ca, S, Mg, Cl, dan lain-lain yang dibutuhkan phytoplankton (tumbuhan) sebagai produsen tingkat pertama dalam rantai makanan di perairan. Jika phytoplankton berkembang dengan baik maka zooplankton juga mempunyai sumber makanan sehingga juga dapat tumbuh dan berkembang. Dan apabila kedua jenis plankton tersebuit dapat tumbuh berkembang dengan baik, pada akhirnya akan menjadi pakan alami penting bagi ikan atau udang.Mari Kita Bangun dan Kembalikan Kejayaan Dunia Perikanan Di Indonesia Dengan Pupuk Tambak Organik Nusantara (Pupuk TON)
Hubungi 082366277131