1. Penggunaan pupuk makro (kimia) yang dilakukan terus menurus tanpa diimbangi penggunaan pupuk organik, berpotensi menambah kerusakan lingkungan yang sudah terjadi.
2. Penggunaan pupuk makro, baik yang bersifat tunggal maupun bersifat majemuk, yang terus menerus telah meninggalkan sisa (residu) yang sukar terurai, sehingga mengakibatkan kerusakan pada lahan (tanah) teksturnya menjadi keras dan sebagian besar unsur hara tersebut tidak bisa diserap oleh tanaman karena terikat oleh tanah. Sehingga jika tanah semakin keras untuk mendapatkan hasil yang sama dengan hasil panen sebelumnya diperlukan dosis pupuk yang lebih tinggi lagi. Hal ini yang menyebabkan mengapa dosis pemupukan pupuk makro (kimia) diperkebunan semakin lama semakin tinggi, selain itu dengan semakin kerasnya tanah,proses penyebaran perakaran dan aerasi (pernapasan) akar akan terganggu yang berakibat akar tidak dapat berfungsi optimal dan pada akhirnya akan menurunkan kemampuan produksi tanaman.
3. Ketersediaan pupuk makro baik yang bersifat tunggal maupun majemuk tidak selalu tersedia dalam jumlah sesuai yang dibutuhkan,sehingga berpengaruh terhadap ketepatan jadwal pemupukkan, akibatnya pertumbuhan tanaman tidak optimal dan target produksi tidak tercapai
4. Program pemupukan hanya menitikberatkan pada pemupukan makro saja, sehingga ketersediaan unsur hara yang yang dibutuhkan oleh tanaman baik berupa unsur hara mikro,dan unsur hara essensial lainnya serta hormon pertumbuhan yang dibutuhkan tanaman tidak tercukupi, akibatnya potensial produksi tidak pernah tercapai, bahkan cenderung hasil produksi semakin menurun jika aplikasi pemupukan tidak dilakukan secara konsisten.

No comments:
Post a Comment