WSSV
Imnv ihhnv yhv tsv hpv mbv pvnv lpv losv mov
Nama-nama virus di atas mungkin lebih mirip kode/sandi kriprografi militer Rusia yang asing didengar tapi telah menjadi problem utama budi daya udang di Asia. Virus-virus udang tersebut datang silih berganti. Belum sembuh virus yang lama, sdh datang virus jenis yang baru.
Virus tsb adalah:
1. MBV -1985
2. WSSV - 1994
3. TSV - 2003
4. IMNV - 2006
5. WSSV - sampai sekarang.
Virus WSSV telah menyebabkan budidaya intensive udang windu asli indonesia tiarap dan berganti menjadi metode alami konvensional dgn yield rendah. Budidaya udang ramai lagi tahun 2003 setelah diganti udang Vannamei asal Hawaii yg lebih tahan terhadap virus White Spot dan memberikan hasil tonase dan padatan tebar udang yang lebih banyak. Perlombaan inovasipun dilakukan sampai akhirnya ditemukan metode super intensive yang menghasilkan produksi udang 153 ton/Ha sekali panen. Kabar baik suksesnya metode super intensif ini tdk serta merta menjadi harapan baru petani udang, karena udang Vannamei yg tadinya tahan terhadap virus white spot kini mulai diserang di seluruh Asia.
Para petani tidak memahami kenapa ini terjadi? Tindakan yang dilakukanpun cenderung prediktif dan preventif, belum ditemukan metode kuratif yang bisa benar-benar menyelasaikan masalah. Entahlah, sepertinya alam sudah jenuh dan terganggu keseimbangannya. Saya tidak tahu persis upaya apa yg sedang dilakukan para ahli budidaya udang untuk mengatasinya. Malahan upaya yang terpantau adalah upaya para ahli nanoteknologi yg mencoba membuat vaksin nano, enkapsulasi virus WS dengan sejenis polymer, filtrasi air tambak menggunakan nano filter sekaligus mendisinfeksi reject water menggunakan hydroxyl radicals dan sinar gamma termasuk menandai benur udang menggunakan nano gold dibantu sejenis polymer.
Saya sendiri cenderung mencurigai pakan udang sebagai pemicu virus WS kembali booming. Sumber protein utama pakan udang adalah tepung ikan. Tepung ikan ini dianggap kurang optimal untuk pertumbuhan udang. Diperlukan tambahan asam amino essensial untuk mempercepat pertumbuhan dan menambah nafsu makan.
Fortifikasi protein nabati kurang cocok karena berperanan terhadap penyakit berak putih. Hypotesa saya adalah fortifikasi animal protein yg menjadi penyebabnya. Porcine, lepton, tepung darah, tepung hati dll. Apalagi bila tepung protein tersebut berasal dari sumber yg tdk halal, alam pun bereaksi negatif. Sebuah hypotesa yg harus divalidasi
NOTE:Kalau sudah diserang penyakit Berak Putih Solusinya Dengan Tangguh Probiotik Nasa
Bisa Pesan Di no Hp 082366277131
Imnv ihhnv yhv tsv hpv mbv pvnv lpv losv mov
Nama-nama virus di atas mungkin lebih mirip kode/sandi kriprografi militer Rusia yang asing didengar tapi telah menjadi problem utama budi daya udang di Asia. Virus-virus udang tersebut datang silih berganti. Belum sembuh virus yang lama, sdh datang virus jenis yang baru.
Virus tsb adalah:
1. MBV -1985
2. WSSV - 1994
3. TSV - 2003
4. IMNV - 2006
5. WSSV - sampai sekarang.
Virus WSSV telah menyebabkan budidaya intensive udang windu asli indonesia tiarap dan berganti menjadi metode alami konvensional dgn yield rendah. Budidaya udang ramai lagi tahun 2003 setelah diganti udang Vannamei asal Hawaii yg lebih tahan terhadap virus White Spot dan memberikan hasil tonase dan padatan tebar udang yang lebih banyak. Perlombaan inovasipun dilakukan sampai akhirnya ditemukan metode super intensive yang menghasilkan produksi udang 153 ton/Ha sekali panen. Kabar baik suksesnya metode super intensif ini tdk serta merta menjadi harapan baru petani udang, karena udang Vannamei yg tadinya tahan terhadap virus white spot kini mulai diserang di seluruh Asia.
Para petani tidak memahami kenapa ini terjadi? Tindakan yang dilakukanpun cenderung prediktif dan preventif, belum ditemukan metode kuratif yang bisa benar-benar menyelasaikan masalah. Entahlah, sepertinya alam sudah jenuh dan terganggu keseimbangannya. Saya tidak tahu persis upaya apa yg sedang dilakukan para ahli budidaya udang untuk mengatasinya. Malahan upaya yang terpantau adalah upaya para ahli nanoteknologi yg mencoba membuat vaksin nano, enkapsulasi virus WS dengan sejenis polymer, filtrasi air tambak menggunakan nano filter sekaligus mendisinfeksi reject water menggunakan hydroxyl radicals dan sinar gamma termasuk menandai benur udang menggunakan nano gold dibantu sejenis polymer.
Saya sendiri cenderung mencurigai pakan udang sebagai pemicu virus WS kembali booming. Sumber protein utama pakan udang adalah tepung ikan. Tepung ikan ini dianggap kurang optimal untuk pertumbuhan udang. Diperlukan tambahan asam amino essensial untuk mempercepat pertumbuhan dan menambah nafsu makan.
Fortifikasi protein nabati kurang cocok karena berperanan terhadap penyakit berak putih. Hypotesa saya adalah fortifikasi animal protein yg menjadi penyebabnya. Porcine, lepton, tepung darah, tepung hati dll. Apalagi bila tepung protein tersebut berasal dari sumber yg tdk halal, alam pun bereaksi negatif. Sebuah hypotesa yg harus divalidasi
NOTE:Kalau sudah diserang penyakit Berak Putih Solusinya Dengan Tangguh Probiotik Nasa
Bisa Pesan Di no Hp 082366277131


No comments:
Post a Comment